Psikologi Belajar oleh : Moh.Minhaji,M.Pd.I
BAB I
PSIKOLOGI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. Pengertian Psikologi Belajar Agama
Psikologi Belajar Agama mengandung tiga kata yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut:
Psikologi diartikan sebagai "ilmu yang mempelajari gejala-gejala tingkah laku manusia (ekspresi jiwa ) dalam hubungannya dengan dunia sekitar (Abd. Muis Tharbani, Diktat Psikologi Umum, Biro Penerbitan Instutit Agama Islam Ibrahimy, 1990:2, lihat pula Mahfudh Shalahuddin, Pengantar Psikologi Umum, Bina Ilmu, Surabaya, 1991:9, Lihat pula Abdul Azis Ahyadi, Psikologi Agama, Cet. III, Sinar Baru Algensido, Bandung, 1995:24 )".
Dari pengertian Psikologi tersebut terdapat empat (4) unsur yaitu :
1. Ilmu Pengetahuan
Yaitu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang mempunyai metode-metode tertentu. Sebenarnya Psikologi disamping sebagai ilmu juga sebagai "seni", karena dalam pengalamannya di pelbagai kehidupan manusia diperlukan keterampilan dan kreativitas tersendiri. Namun dalam pengajaran ini lebih ditekankan pada Psikologi sebagai ilmu pengetahuan.
2. Tingkah Laku
Tingkah laku (perbuatan/action) mempunyai arti lebih konkrit dari pada "Jiwa", karenanya tingkah laku lebih mudah dipelajari dari pada jiwa, dan melalui tingkah laku pula kita dapat mengetahui seseorang.
Ada dua (2) macam tingkah laku :
a. Tingkah Laku Terbuka
Ialah tingkah laku yang segera bisa bisa dilihat orang lain, misalnya: makan, minum dan lain-lain.
b. Tingkah Laku Tertutup
Ialah jenis tingkah yang hanya bisa diketahui secara tidak langsung (dengan menggunakan alat atau metode-metode khusus) misalnya: berpikir, sedih, berkhayal, takut dan lai-lain.
Dalam Psikologi masa kini kedua jenis tingkah laku tersebut sama-sama pentingnya. Masa dulu ada aliran "Behaviorisme" yang mementingkan tingkah laku terbuka saja, juga ada aliran "Instropeksi" tertuju yang tertutup saja.
3. Manusia
Obyek material Psikologi semakin lama semakin mengarah kepada manusia, karena manusialah yang paling berkepentingan dengan ilmu ini. Manusia membutuhkan ilmu ini dalam berbagai segi kehidupan baik di sekolah, kantor, rumah tangga, perusahaan dan lain-lain, sementara hewanpun menjadi obyek Psikologi hanya sebagai perbandingan (komparasi) saja atau untuk mencari fungsi-fungsi Psikologi yang sederhana yang sulit dipelajari manusia, karena struktur Psikologis manusia terlalu berbelit-belit.
4. Lingkungan (milliu)
Yaitu tempat dimana manusia hidup menyesuaikan dirinya (adaptasi) dan mengembangkan dirinya dengan dibekali akal budi yang dapat difungsikan untuk menyusun simbol-simbol berupa bahasa kesenian, ilmu pengetahuan, Agama dan lain-lain. Dengan simbol itu manusia menguasai dunia baik alam fisik (sungai, gunung dan lain-lain) atau alam sosial (orang-orang lain disekitarnya).
Sedangkan Belajar diartikan sebagai suatu bentuk pertumbuhan-perkembangan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. (Oemar Hamalik, Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, Edisi II, Tarsito, Bandung, 1983:21. lihat pula, Muhibbun Syah, Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1995:88).
Sedangkan Agama diartikan sebagai ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. (Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, Jilid I, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1978:10).
Dari ketiga pengertian kata-kata tersebut dapat disimpulkan, bahwa "Psikologi Belajar Agama adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia (gejala jiwa) yang sedang menimba informasi yang mengandung nilai-nilai Relegius dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar."
B. Ruang Lingkup Psikologi
Dalam buku "Psikologi Pendidikan" yang ditulis oleh M. Ngalim Poerwanto diuraikan, bahwa ruang lingkup Psikologi Belajar meliputi :
1. Sampai sejauh mana faktor-faktor heriditas dan milliu berpengaruh terhadap belajar individu.
2. Sifat-sifat dari proses Belajar.
3. Hubungan antara tingkat kematangan dengan persiapan belajar.
4. Signifikansi pendidikan terhadap perbedaan-perbedaan individu dan keterbatasan Belajar.
5. Perubahan-perubahan jiwa (Inner Change) yang terjadi selama dalam Belajar.
6. Hubungan antara prosedur mengajar dengan hanya belajar.
7. Tehnik penilaian yang efektif bagi kemajuan belajar.
8. Pengaruh atau akibat yang relativ dari pendidikan formal dibanding dengan pengalaman-pengalaman belajar yang insidental dan informal terhadap individu.
9. Manfaat pendidikan bagi personil sekolah.
10. Pengaruh atau akibat Psikologis (Psychological Impact) yang ditimbulkan oleh kondisi sosiologis terhadap sikap para siswa.
C. Obyek Psikologi
Menurut Drs. Tadjab, MA dalam buku "Psikologi Pendidikan" bahwa Psikologi meliputi :
1. Obyek Material (Umum)
Ialah sama dengan disiplin ilmu yang lain yaitu menghayati tingkah laku manusia (human behavior and human relationship).
2. Obyek Formal (Khusus)
Ialah proses mengajar, membimbing dan melatih anak didik.
D. Peranan Belajar di Sekolah
Supaya perkembangan anak berlangsung sebagaimana yang diharapkan maka anak perlu di didik, artinya bantuan yang diberikan oleh seorang pendidik (orang dewasa) berupa pendampingan, yang menjaga agar anak didik belajar hal-hal yang positif, sehingga benar-benar menunjang perkembangannya.
Untuk itu, cara Belajar anak didik diarahkan sesuai dengan tujuan dan tuntunan itu diberikan melalui pergaulan paedagogis dengan anak didik, yaitu pergaulan yang bersifat pendidik.
Pendidikan berlangsung melalui dan di dalam pergaulan, tetapi tidak setiap pergaulan antara orang dewasa anak dengan sindirinya bersifat peadagogis (mendidik). Pergaulan baru bersifat peadagogis apabila pendidik bermaksud dan berusaha mempengaruhi anak demi perkembangan dan pendidik mempunyai wewenang terhadap anak itu.
Sekolah dikatakan sebagai lembaga pendidikan formal, karena di sekolah terlaksana serangkaian kegiatan terencana dan terorganisir, termasuk kegiatan dalam rangka proses Belajar-mengajar di kelas, yang kegiatan itu bertujuan menghasilkan perubahan-perubahan positif didalam diri anak yang sedang menuju kedewasaan sejauh usaha-usaha itu dapat diusahakan melalui usaha belajar.
Dengan belajar terarah dan terpimpin, si anak memperoleh pengetahuan, pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai yang mengantarnya kedewasaan, maka perumusan-perumusan tujuan pendidikan nasional menentukan hasil-hasil apa yang seharusnya diperoleh dibidang kognitif, efektif dan psikomorotik baik yang mencakup jenjang dan jenis pendidikan sekolah maupun yang khusus disekolah tertentu. (WS. Winkel, Psikologi Pengajaran, Gramedia, Jakarta, 1989:19).
E. Manfaat Mempelajari Psikologi Belajar
Ada tiga manfaat mempelajari Psikologi Belajar, antara lain :
1. Demi perkembangan ilmu itu sendiri
2. Untuk keperluan pengobatan
3. Dalam hubungannnya dengan pendidikan, meliputi :
1. Pendidikan Keluarga (Informal)
Untuk mengetahui hakikat pribadi anak
Untuk mengetahui bakat pada diri anak
Menempatkan anak pada tempatnya
2. Pendidikan Sekolah
Pemahaman karakteristik PBM
Pemahaman karakteristik peserta didik
Tujuan pendidikan selaras dengan perkembangan karakteristik anak didik
Pemilihan KBM yang selaras dengan anak didik
Penilaian terhadap keberhasilan anak didik
Pemberian bantuan kepada anak didik yang tidak mampu
3. Pendidikan Masyarakat (Non Formal)
Terutama pada era millennium yang ketiga ini yang dikatakan bahwa dunia kian sempit dengan memberikan pengertian kepada masyarakat melalui berbagai organisasi kemasyarakatan agar masyarakat mengetahui isi Psikologi terutama kepada :
Orang-orang yang droup out
Orang-orang yang tidak mendapat pekerjaan
Johan Firedrick Herbart mengatakan, bahwa arah pendidikan tertuju kepada pengembangan berbagai kemampuan pada diri anak sesuai dengan hukum Psikologi, ini berarti kaidah atau hukum atau hasil-hasil penemuan dunia Psikologi punya andil bagi usaha kalangan pendidikan. (Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan, Aksara Baru, Jakarta, 1984:56).
F. Metode-Metode Psikologi Belajar
1. Metode Observasi (Pengamatan)
Ialah suatu kegiatan yang memusatkan perhatiannya terhadap obyek dengan menggunakan alat indera.
Ada dua macam observesi :
a. Observasi Langsung (Non Sistematis)
Ialah pengamatan yang dilakukan hanya dengan menggunakan alat indera semata (tidak menggunakan instrument observesi).
b. Observasi Sistematis
Ialah pengamatan dengan menggunakan instrument atau alat yang telah disiapkan secara sistematis dan terencana.
Dengan metode observasi terutama sistematis seorang peneliti akan mendapatkan data secara obyektif, hanya saja penelitian memerlukan waktu yang lama dan sering tidak efisien karena observesi terikat pada waktu dan ruang tejadinya obyek yang diamati. Terikat pada waktu artinya seorang peneliti harus menunggu sampai gejala atau obyek yang diamati terjadi dengan sendirinya, sedangkan terikat pada ruang (tempat) artinya peneliti harus berada di tempat kejadian obyek yang diobservasi.
2. Metode Eksperimen (Percobaan)
Ialah suatu yang dijalankan dengan cara mengadakan percobaan secara sengaja menimbulkan keadaaan atau kejadian yang diselidiki.
Penggunaan metode eksperimen dalam Psikologi mulai sejak Wilhelm Wundt mendirikan laborat di kota Leipzig (1875). Walau dalam laborat itu alat-alatnya sudah lengkap tetapi karena yang diselidiki adalah psikhis maka masih banyak kendala yang dihadapi.
Kelemahannya:
a. Eksperimen biasanya dilakukan terhadap benda mati (punya hokum tetap), sedangkan psikhis berkembang.
b. Tidak semua gejala psikhis itu bisa diselidiki dengan menggunakan percobaan.
c. Dalam laboratorium situasinya tidak wajar, sehingga amat mempengaruhi psikhis.
d. Gejala psikhis sulit diukur menggunakan eksak atau pasti.
Untuk mengurangi kelemahan yang ada maka Wilheln Wundt mengajukan beberapa syarat agar eksperimen berhasil baik, antara lain:
a. Orang yang mengadakan eksperimen harus menetapkan sendiri saat timbulnya kejadian atau keadaan yang akan diselidiki.
b. Orang yang mengadakan eksperimen harus mengikuti semua jalannya kejadian secara teliti dengan memusatkan perhatiannya.
c. Setiap kejadian harus dapat diulang secukupnya dalam keadaan yang sama sehingga hasilnya dapat dibandingkan.
d. Orang yang mengadakan eksperimen hanya mengukur satu gejala psikhis saja.
e. Orang yang mengadakan eksperimen harus mengusai syarat tersebut yang ada.
3. Metode Angket (Questionary)
Ialah suatu penyelidikan yang berusaha untuk mengungkap keadaan psikhis dengan cara memberi daftar pertanyaan untuk dijawab.
Angket ada dua (2) macam :
a. Angket Langsung (mengenai pengalaman sendiri)
Angket ini mempunyai kelebihan karena ia harus menjawab tentang keadaan dirinya sendiri yang lebih mendalam, sehingga jawabannya bisa dipertanggung-jawabkan, namun kelemahannya: jika pertanyaan tidak tahu berarti tak terjawab.
Dan jika yang ditanyakan adalah dirinya maka jawabannya tidak bisa dipertanggung jawabkan (tidak obyektif).
b. Angket Tidak Langsung (tentang pengalaman orang lain)
Ialah yang ditujukan kepada seseorang atau sekelompok orang tentang keadaan obyek yang akan diselidiki.
Kelebihannya:
Hal-hal yang bersifat rahasia bisa diungkap jika orang yang harus menjawab itu mengetahui.
Tidak ada resiko secara langsung bagi dirinya.
Kelemahannya:
Mungkin orang yang harus menjawab pertanyaan itu tidak tahu masalah orang yang diselidiki.
Hal-hal yang bersifat pribadi tidak bisa dilaporkan oleh orang lain (yang harus menjawab pertanyaan).
4. Metode Test (Pengukuran)
Ialah suatu metode untuk menyelidiki keadaan psikhis dengan cara memberikan tugas atau pertanyaan yang harus diselesaikan. Pertanyaan yang digunakan dalam test terlebih dulu harus dicoba beberapa kali hingga diperoleh standart.
Dalam menyusun test harus memenuhi syarat:
a. Valid
Test harus dapat mengukur apa yang akan diukur (tepat pada sasaran) misalnya : untuk mengukur suhu menggunakan thermometer.
b. Reliable
Test harus dapat dipercaya kebenarannyaa, walaupun dipakai kapan saja dan di mana saja (ajeg, konstan).
c. Standart
Test itu harus punya norma yang bisa dipakai sebagai ukuran.
Test dapat ditinjau dari :
a. Fungsi, ada 4 jenis :
1. Speed Test (test kecepatan)
Untuk mengetahui kecepatan siswa didalam menyelesaiakn tugas.
2. Power Test (test batas kesanggupan)
Untuk mengetahui kesanggupan atau kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas.
3. General Survey Test (test ihtisar umum)
Untuk mengetahui garis besar (ihtisar) pengetahuan yang dimiliki seseorang. Test ini biasanya dipakai untuk mengukur pengetahuan siap (parate-kenis).
4. Diagnostik Test
Untuk mengetahui atau menentukan secara tepat tentang sebab-sebab kesulitan Psikologis yang dihadapi seseorang. Seperti kesulitan belajar.
b. Aspek psikhis yang diselidiki ada 7 macam :
1. Test Intelegensi (kecerdasan)
2. Test Ingatan (memory test)
3. Test Perhatian (attention test)
4. Test Bakat (aptitude test)
5. Test Minat (interest test)
6. Test Kepribadian (personality test)
7. Test Hasil belajar (echivement test)
c. Cara penyampaian atau menjawab ada 2 macam :
1. Test Secara Lisan/Tulis (verbal test)
2. Test Tanpa Kata (non verbal test) misalnya dengan perbuatan
d. Ditinjau dari yang ditest ada 2 macam :
1. Test Perorangan (individual test)
2. Test Kelompok (group test)
e. Ditinjau dari bentuk pertanyaan yang diberikan ada 2 macam :
1. Test essay
2. Test obyektif, ini bisa berbentuk :
Test benar-salah (true-false)
Test pilihan ganda (multiple chois test)
Test menjodohkan (matching-test)
Test isian (completition test)
Test jawaban singkat (short-answer-test)
Kelemahannya:
Test yang telah dibuat biasanya terikat oleh kondisi tertentu.
Masih dipengaruhi oleh kebudayaan (kemajuan pengetahuan).
Karena psikhis manusia merupakan kebulatan maka tak bisa diukur aspek demi aspek.
Memerlukan pelaksana yang betul-betul terdidik di bidang ini.
Kelebihannya:
Test amat praktis untuk mengadakan penyelidikan kondisi psikhis seseorang atau kelompok.
Karena dianggap akan memudahkan penilaian.
Sudah terklasifikasi menurut jenis dan tujuannya hingga mudah melaksanakannya.
5. Metode Studi Kasus (Case Study)
Ialah penyelidikan yang digunakan memperoleh gambaran secara rinci tentang Psikologis individu atau kelompok tertentu.
Metode ini selain dipakai oleh para peneliti Psikologi pendidikan juga sering dipakai oleh peneliti-peneliti ilmu sosial karena memungkinkan peneliti melakukan "investigasi" (penyelidikan dengan mencatat fakta) dan penafsiran yang lebih luas dan mendalam.
Instrument (alat pengumpul data/APD) yang digunakan dalam studi kasus beragam, terutama dalam mengungkapkan variable yang sulit ditentukan dalam satuan jumlah tertentu (Tardif 1987).
Lalu karena kesimpulan yang ditarik dari studi kasus biasanya sulit dijadikan pedoman secara umum (digeneralisasikan), maka studi kasus tersebut sering diikuti dengan investigasi serta survey lain yang berskala makro. Tapi di dalam hal subyek yang diteliti, studi kasus sama dengan metode penyelidikan klinis yaitu hanya terdiri dari seorang individu atau kelompok kecil individu.
Fenomena dan peristiwa yang diselidiki dengan metode ini lazimnya secara kontinyu diikuti perkembangan selama kurun waktu tertentu, bahkan seorang peneliti Psikologi pendidikan terkadang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menghimpun bahan-bahan berupa data dan info yang akurat, tepat dan cermat mengenai seorang individu atau kelompok kecil individu.
Studi khusus butuh waktu yang lama jika akan dipakai untuk menyelidiki fenomena genetika (karakteristik keturunan) yang dihubungkan dengan aktivitas pendidikan. Mulai dari usia muda sampai remaja misalnya: dengan tujuan untuk mendapatkan pengertian yang tepat mengenai aspek perkembangan yang perlu diperhatikan demi kepentingan praktek kependidikan untuk anak tersebut.
6. Metode Klinis
Hanya digunakan untuk para ahli klinis (psikoster) karena di dalamnya ada prosedur diagnosis dan penggolongan penyakit kelainan jiwa dan cara memberi perlakuan pemulihan terhadap kelainan jiwa tersebut.
Jean Piaget ialah orang pertama yang memanfaatkan metode ini untuk kepentingan pendidikan, yaitu mengumpulkan data dengan cara interaksi semi alamiah (quasi-natural) antara peneliti dengan yang diteliti. (Reber, 1988)
Penggunaannya :
Peneliti menyediakan benda-benda, memberi tugas dan pertanyaan tertentu yang boleh diselesaikan anak secara bebas menurut persepsi dan kehendaknya. Setelah data dari hasil penyelidikan pertama diangkat dan diberi perlakuan khusus (misalnya: dianalisa sekilas), peneliti mengajukan pertanyaan lagi atau tugas tambahan untuk mendukung data yang terhimpun sebelumnya.
Catatan :
Metode penyelidikan klinis umumnya hanya dilakukan untuk menyelidiki anak uang menyimpang secara Psikologis atau perilaku, maka penggunaan sarana memperhatikan batas-batas kesanggupan si anak.
Sama halnya dengan metode eksperimen yang dilakukan dalam laboratorium, metode klinis juga memerlukan intensitas dan ketelitian secara mendetail.
Sasaran :
Metode klinis terutama untuk memastikan sebab-sebab timbulnya ketidak normalan prilaku anak, dan berdasar kepastian faktor penyebab itu maka peneliti berupaya memilih dan menentukan cara yang tepat untuk mengatasi penyimpangan itu.
G. Sejarah Perkembangan Psikologi Belajar
Bagaimana manusia belajar dan bagaimana syarat-syarat yang berlaku bila manusia belajar, merupakan permasalahan yang sudah lama mendapat perhatian dari sejumlah ahli Psikologi, terutama mulai awal abad ini. Corak pandangan terhadap masalah belajar yang masih mempengaruhi Psikologi Belajar modern ialah cara berpikir yang dipelopori psikolog inggris yang mengembangkan aliran "Asosianisme oleh John Locke (abad 17) lalu diikuti: David Hume, Hertly, John Stuart Mill, Herbart Spencer". Mereka mempelajari bagaimana gagasan yang satu dihubungkan dengan gagasan yang lain, misalnya: bagaimana gagasan kompleks "bunga atau nomor atau angka" yang masing-masing mengandung banyak ide, akhirnya dibentuk. Gagasan itu bersumber dari kesan yang diperoleh gagasan/ide seperti: bunga/nomor/angka.
Dengan kata lain, mereka menaruh perhatian terhadap, masalah bagaimana gagasan-gagasan yang kompleks itu diperoleh.
Psikologi dari Amerika (William James, John Dewey) menginterpretasikan pandangan tradisional yang bersifat asosiatif itu yang dianggap sebagai salah satu ciri khas dalam belajar ialah "fungsi atau peranan belajar dalam kehidupan manusia sebagai "susunan syarat bila seseorang sedang belajar" (bukan pembentukan gagasan-gagasan lagi), akhirnya dapat dipahami, bagaimana kesan-kesan yang diperoleh melalui indra berkaitan dengan perilaku yang tampak dalam perbuatan-perbuatan seseorang.
Dalam membentuk kaitan itu maka perbuatan (action) dianggap memegang peranan pokok. Berbuat tidak muncul gagasan terbentuk tetapi sebagai ciri khas tersendiri dari belajar itu, maka belajar diartikan sebagai, "proses pembentukan tingkah laku secara terorganisir". Dengan demikian kata "asosiasis" mulai mempunyai arti lain dari Cuma sekedar hubungan antara gagasan-gagasan. Kecenderungan yang kuat untuk menghindari pandangan yang berbau mentalistik mengakibatkan kata "asosiasis"dirumuskan sebagai suatu hubungan antara rangsangan dan reaksi, yang oleh ahli Psikologi Belajar bahwa hubungan itu (asosiasis juga disebut koneksi-koneksi/pertalian).
Pandangan asosiasis yang demikian masih bertahan hingga kini sebab masih ada ahli yang beranggapan bahwa asosiasi adalah pola belajar yang paling dasar, disamping itu diperlukan eksperimen untuk memperoleh data secara obyektif antara lain dengan mengadakan penelitian terhadap cara binatang belajar (misalnya Torndinke) melalui eksperimen dan bukan melalui pengumpulan kisah-kisah tentang binatang yang telah belajar sesuatu.
Sebagai seorang asosianis, ia yakin bahwa data penelitian mengenai cara binatang belajar bisa dijelaskan secara mendetail dengan menunjukan terbentuknya ikatan (asosiasis) antara perangsang dan reaksi merupakan pola dasar pada belajar yang berlangsung pada diri manusia, dengan demikian menurut Torndinke bahwa "inti belajar adalah membentuk asosiasi antara perangsang (stimulus) yang berkenaan dengan organisme melalui sistem susunan syaraf dan reaksi (respon) yang diberikan oleh organisme itu terhadap perangsang tadi."
Sebagai cara belajar yang khas ditunjukkannya "Trial and Error" yaitu mencoba-coba dan menggunakan pedoman : dilakukan hal-hal yang mendatangkan rasa senang (menghindari kegiatan yang tidak menyenangkan).
Pedoman ini diolahnya dengan menciptakan dua istilah baru yaitu "pembawa kepuasan (satisfier) dengan pembawa kebosanan (annoyer)". Pembawa kepuasan adalah sesuatu yang diperoleh dan pembawa kebosanan adalah sesuatu yang dihindari, yang akhirnya paling ditekankan Torndinke adalah pembawa kepuasan: yaitu efek positif yang muncul setelah memberi reaksi tertentu.
Dalam eksperimen-eksperimen yang dilakukan Torndinke, sipelajar (hewan atau manusia) dihadapkan pada keadaan tertentu yang mengandung problem untuk dipecahkan (misalnya : eksperimen terhadap kucing). Kucing yang muda dan dibiarkan agar lapar dulu, lalu dimasukkan ke dalam kurungan, dan didalam kurungan terdapat sebuah mekanisme yang apabila disentuh atau diinjak mengakibatkan pintu kurungan terbuka sehingga kucing bisa keluar. Di luar kurungan itu ditaruh sedikit makanan yang bisa dilihat dan dicium kucing yang berada di dalam kurungan. Kucing dikurungan itu berusaha untuk keluar dari kurungan agar bisa mengambil makanan lalu ia merasa puas. Semula kucing bertingkah laku tidak menentu, mencoba begini dan mencoba begitu tetapi gagal. Pada suatu ketika secara kebetulan kucing menyentuh atau menginjak mekanisme sampai pintu terbuka (kali ini eksperimen berhasil). Lalu eksperimen ini diulang lagi beberapa kali, tapi waktu yang dibutuhkan untuk menemukan jalan keluar (Way Out) semakin singkat.
Akhirnya kucing secara cepat memberikan reaksi yang tepat terhadap tantangan atau perangsangnya; artinya : ia telah belajar, yaitu membuat asosiasi antara perangsang dan reaksi (S - R) melalui belajar secara "Trial and Error".
Apakah pola belajar mencoba dan mengurangi kesalahan juga merupakan pola yang paling khas pada pola belajar manusiawi? Jawabannya jelas : tidak ternyata amat sulit untuk menunjukkan hubungan antara pola "Trial and Error" dengan proses belajar yang terjadi pada manusia. Jika seorang dewasa dimasukkan kedalam kotak masalah seperti binatang tadi ia akan menggunakan pikirannya (mencari akal) untuk mencari jalan keluar secara tepat. Ia mengenal kembali simbol-simbol, pegangan dan peralatan yang lain, ia mengetahui kegunaan dari alat-alat itu dan memikirkan akibat-akibat bila peralatan itu disentuh. Mungkin dapat ditunjukkan kemiripan antara belajar "Trial and Error" dan cara seorang anak membuat suatu bangunan dengan menumpuk balok yang dibuat dari kayu atau plastik, membuat simpul yang sederhana atau mempelajari bunyi-bunyi bahasa.
Sejauh ini Trial and Error mungkin bisa ditemukan pada belajar manusiawi, tapi belum berarti bahwa pola belajar ini adalah pola yang paling khas.
JP. Povlov (1927) menemukan kenyataan sebagai berikut : bila dibunyikan bel beberapa saat sebelum disajikan makanan kepada seekor anjing yang lapar dan pasangan perangsang yang sama ini diulang sampai beberapa kali, maka lama-kelamaan anjing itu sudah mengeluarkan air liur bersamaan dengan penyajian makanan diartikan sebagai reaksi asli (alamiah); air liur mengalir keluar pada saat terdengar bunyi bel tanpa diikuti makanan diartikan sebagai reaksi yang diperoleh (reflek bersama).
John B. Watson memperdalam dan memperluas pandangan Pavlov dalam rangkaian percobaan dengan mengkondisikan seekor anjing. Dalam karya tulis Watson bahwa : "belajar dipandang sebagai cara menemukan sejumlah ikatan antara perangsang dan reaksi (asosiasi-asosiasi tunggal) dalam sistem susunan saraf kegiatan-kegiatan manusiawi yang lebih kompleks dipandang sebagai hasil rangkaian banyak asosiasi tunggal semacam itu". Para ahli lain menganggap bahwa belajar cara Pavlov itu sebagai pola yang terbatas, misalnya : dalam belajar memberikan reaksi-reaksi emosional terhadap hal-hal tertentu (seperti rasa takut yang muncul bila seseorang melihat sebuah danau penuh air setelah ia mengalami bencana nyaris mati tenggelam).
Meskipun belajar menurut pola "Reflek Bersyarat" dalam hiduup manusia bisa saja terjadi, namun pola ini tidak mencerminkan apa yang terjadi dalam kebanyakan pengalaman belajar manusiawi.
Belajar melakukan kegiatan-kegiatan tertentu secara sadar dan disengaja tidak bisa dijelaskan dengan mencari kaitan antara perangsang dan reaksi misalnya: anak ingin belajar naik sepeda, ia tidak akan memperoleh keterampilan itu berdasarkan perangsang yang diberikan kepadanya (menurut pola Povlov), maklum; penguasaan gerakan motorik yang diperlukan dalam mengendarai sepeda tidak diperoleh melalui cara-cara belajar Povlov termasuk Watson, bisa dipandang sebagai proses merangkaikan sejumlah reflek bersyarat (konsep ini amat sederhana) karena tidak mencakup keseluruhan pengalaman belajar manusia.
Herman Ebbinghaus (1913) meneliti tentang "menghafal dalam belajar" dengan mencoba diri sendiri memakai kata yang tidak berarti misalnya: NOF-VIB-JEX kata ini dipakai dengan tujuan mengesampingkan pengaruh dari unsur-unsur yang tidak diinginkan misalnya rangkaian kata: BOY-MAN yang artinya sudah diketahui dan diingat. Dalam kaitan dengan menghafal rangkaian suku kata yang tidak berarti itu, ia juga mempelajari pengaruh dari beberapa variabel lain misalnya: panjang-pendeknya suatu rangkaian suku kata dan cara rangkaian suku kata itu disajikan, meski demikian ahli yang lain berpendapat bahwa : penggunaan suku kata yang tidak memiliki arti itu hanya akan bermanfaat bila dipelajari proses "merangkai kata-kata (asosiasi verbal)".
Sebenarnya belajar merangkai kata hanya sebagian kecil dari keseluruhan tuntutan belajar yang dihadapi manusia. Perbedaan antara belajar dan mengingat bahan yang mengandung makna dan berkaitan satu sama lain misalnya: bila orang menghafal karangan prosa dan puisi dan belajar bahan seperti rangkaian suku-suku kata yang tidak berarti, sudah lama diketahui.
Pandangan aliran Psikologi Gestalt berlawanan dengan Psikologi Asosiasi sebagaimana ditulis oleh Max Wertheimer (1945), Wolfgang Kohler (1929) dan Kurt Kofka (1929) menurutnya, bahwa: belajar menunjukkan suatu ciri khas yaitu "pemahaman/insih" yaitu: reorganisasi terhadap kesan-kesan indrawi yang menghasilkan gagasan baru dan penyelesaian suatu masalah bedasarkan pemikiran.
Psikologi Gestalt semula menaruh perhatian pada masalah pengamatan, lama-kelamaan perhatianya berpindah pada masalah "Belajar". Kohler mengemukakan keberatan terhadap pandangan Torndinke tentang cara mengemukakan problem dan menegasan, bahwa: binatang percobaan memecahkan problem yang dihadapkan kepadanya berdasarkan pemahaman (insih) terhadap keseluruhan aspek dalam problem. Dalam penelitiannya Kohler menggunakan simpanse dihadapkan pada tantangan yang harus diatasi dengan cara: diluar kurungan diletakkan sebuah pisang, simpanse yang ada didalam kurungan mencoba meraih pisang yang agak jauh jaraknya, namun disebelahnya disediakan tongkat yang dipakai untuk menggeser pisang itu lebih dekat pada kurungan sehingga akhirnya bisa dipungut dengan tangan simpanse tadi.
Jadi tongkat sebagai alat Bantu dan penyelesaian ini (saat datangnya insih) baru dijumpai setelah beberapa saat (tidak secara perlahan) tetapi serentak dan secara menyeluruh. Setelah penyelesaian ditemukan, lalu simpanse dapat mengulangi perbuatan tersebut dengan mudah, termasuk jika problemnya berbeda-beda dari semula.
Dengan demikian, binatang tidak hanya mencoba-coba berbagai kegiatan-gerakan lalu secara kebetulan saja menemukan penyelesaian yang tepat, sebagaimana dikatakan Thorndike lalu timbul suatu pemahaman mengenai hubungan antara aspek-aspek dalam problem yang dihadapi (yaitu: simpanse menagkap hubungan antara ia sendiri, tongkat dan sebatang pisang diluar kurungan secara semua itu diamati secara teliti. Cara belajar demikian juga dijumpai pada manusia sebagaimana dilukiskan oleh tokoh Psikologi Gestalt bernama Wertheimer serta Katona (1940).
Misalnya, Wertheimer menggambarkan penyelesaian soal ilmu ukur sebagaimana dapat ditemukan oleh anak baik yang membutuhkan pengertian yang mendalam maupun tidak. Anak yang telah mengetahui rumus untuk menghitung luas "empat persegi panjang" atau bunjur sangkar lalu disuruh menghitung luas jajar genjang maka akan lebih mudah menjawabnya, karena sudah mempunyai dasar.
Penjelasan para ahli aliran Gestalt tentang belajar sebagaimana diterangkan diatas masih juga diperdebatkan, yaitu amat mungkin bahwa binatang dan anak dalam memecahkan persoalan dihadapkan pada mereka dengan menggunakan pengalaman yang diperoleh sebelumnya dalam memecahkan persoalan yang sifatnya mirip. Dengan kata lain, bahwa : "belajar yang telah berlangsung sebelumnya mungkin saja membantu dalam menghadapi persoalan dikemudian".
Penelitian Harlow (1979) menggunakan seekor kera terbukti, bahwa: dengan belajar berkali-kali menyelesaikan masalah yang mirip bisa membentuk kemampuan internal. Dengan kemampuan itu hewan-hewan, itu sungguh kera dari usia dan keturunan yang sama yang tidak mempunyai pengalaman belajar sebelumnya. Ia menjadi seekor kera yang pandai memecahkan bermacam-macam problem dan menampakkan suatu "pemahaman".
Realita: Dasar dari pemahaman yang ditampakkan itu tidak terdapat dalam pengaturan kesan-kesan yang diperoleh dari sekian telah dihadapkan pada problem yang mirip, jadi sebelemunya sudah terjadi belajar (previos learning). Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa: belajar berdasar pada pemahaman itu apa yang paling dasar didalam belajar? Satu pihak, pola ini mencakup sejumlah segala jumlah yang menuntut adanya pemahaman misalnya (anak dituntut menangkap hubungan antara penambahan dan perkalian atau daya berat dengan daya tarik) dan dilain pihak, ada saja tugas-tugas belajar yang tidak mutlak menuntut pemahaman, misalnya (anak tidak akan menghapal semua nama tumbuh-tumbuhan atau binatang berdasar pemahaman saja Ia tidak bisa membaca hanya berdasar pemahaman atau belajar untuk berbicara dalam bahasa asing).
Seorang Mahasiswa Biologi tidak mempelajari struktur tubuh dan fungsi bagian tubuh hewan hanya dengan pemahaman saja. Pendek kata: belajar berdasar pemahaman tidak bisa dipandang sebagai pola belajar yang paling dasar dalam semua tugas belajar yang dihadapi seseorang, mungkin pula itu berlaku dalam belajar memecahkan masalah, namun orang juga belajar banyak hal yang tidak merupakan pemecahan masalah.
Dalam penelitian lain tentang "Proses Belajar" muncul istilah "Penguatan (reinforcement)" yang diartikan berbeda-beda oleh para ahli misalnya :
1. Skinner (1968)
Reinforcement adalah istilah yang dikaitkan dengan pengaturan sejumlah perangsang dan reaksi yang akan diikatkan satu sama lain. Hewan atau manusia akan belajar karena semuanya telah diatur supaya dia belajar. Eksperimen Thorndike diatur dengan lain cara dan diartikan dengan cara lain pula. Jika kucing menginjak tombol hingga pintu kurungan terbuka dan kucing bisa keluar, disajikan makanan kepadanya. Namun penyajian makanan terjadi jika kucing telah memberikan reaksi yang tepat yaitu "menginjak tombol". Artinya makanan memperkuat hubungan antara perangsang (berada dalam kurungan) dan reaksi tepat yang sejak semula dituntut (menginjak tombol), hanya reaksi yang tepat yang diberikan secara agak spontan, mendapatkan penguatan (reinforcement). Jika demikian hewan atau manusia yang belajar harus aktif sendiri dan berbuat sesuatu sebagai reaksi terhadap tantangan dalam lingkungan.
Dalam melatih binatang atau dalam mendidik anak orang yang menuntun memperhatikan apa yang diperbuat, baru bila muncul perbuatan atau reaksi yang memang diharapkan, sipelatih atau sipendidik memberikan penguat (reinforcement) yang sesuai bagi binatang atau anak dengan tujuan agar dilain kesempatan, reaksi yang sama diberikan lagi. Maka yang paling menentukan adalah akibat dari reaksi yang tepat, dilain waktu dan lingkungan yang sama, subyek akan memberikan reaksi yang sama dan mendapat efek yang sama pula.
Semua pandangan tentang belajar yang dibahas secara singkat diatas mempunyai satu ciri khas yang sama yaitu: masing-masing dimulai sebagai usaha untuk memahami tugas belajar tertentu dan sering pula menggunakan golongan pelajar tertentu.
Thorndike ingin mempelajari bagaimana caranya hewan mengaitkan reaksi tertentu pada perangsang tertentu, Povlov meneliti reflek bersyarat, Ebbinghaus mempelajari cara menghafal suku-suku kata, Kohler mempelajari cara hewan memecahakan masalah, yang kesemua itu secara emplisit atau eksplisit tugas-tugas belajar yang sangat terbatas dalam banyak aspek dianggap sebagai yang mewakili apa yang berlangsung dalam diri manusia yang sedang menghadapi tugas belajar. Disamping itu, pandangan para ahli diatas dianggap bertentangan satu sama lain, atau semua belajar pada hakikat berlangsung berdasarkan pemahaman atau semua belajar hakikatnya berdiri atas pengaitan antara perangsang tertentu dan reaksi tertentu (Stimulus / S-reaksi / R). Pertentangan itu berlangsung bertahun-tahun yang tidak menghasilkan kemajuan didalam memahami proses belajar sebagai suatu gejala yang manusiawi.
2. Tulving dan Donaldson (1972)
Bahwa proses belajar sebagai suatu rangkaian fase yang berlangsung didalam orang yang belajar. Belajar dipandang sebagai "proses mengolah informasi". Jadi belajar dipandang kembali sebagai suatu kejadaian atau peristiwa internal yang bersifat mental (seperti yang digambarkan asosianisme dipelopori psikolog Inggris).
Teori yang dikembang dewasa ini menyangkut "belajar dan mengingat" berpandangan bahwa: rangsangan-rangsangan yang diterima dari luar secara berangsur-angsur diolah dengan berbagai cara melalui proses yang berlangsung dari orangnya sendiri, yang selama pengolahan itulah terjadi perubahan-perubahan tertentu secara berangkai.
Rangsangan yang semula menyentuh alat indra diubah menjadi satuan-satuan perceptual yang berfungsi sebagai in-put atau informasi itu untuk sementara waktu disimpan didalam "ingatan jangka waktu terbatas (short-term memory)" lalu digali kembali untuk memberikan prestasi tertentu sebagai final dari proses belajar telah tercapai.
Pandangan belajar ini dituangkan dalam berbagai "model for information processing" amat berarti bagi pengaturan pengajaran disekolah. Peranan pengajar yang menuntun siswa tidak dipandang sebagai pemberi perangsang yang menimbulkan reaksi-reaksi tertentu bagi siswa, perannya dipandang sebagai usaha mendorong, mengaktifkan dan mendampingi siswa dalam cara belajar; peran yang utama adalah mendukung dan menunjang siswa dalam proses belajar melalui beberapa fase pengolahan didalam siswa sendiri, mendukung dan menunjang itu terwujud berbagai usaha menciptakan kondisi ekstern yang membantu siswa dalam melangkahi fase-fase proses belajar yang berlangsung dalam dirinya.
3. Tolman
Ia menitik beratkan pada aspek kognitif berupa antisipasi, menanti sebagaimana Psikologi Gestalt yaitu :
a. Dari lingkungan sekitar, subyek menerima rangsangan yang ditampung oleh alat indra (receptors) yang berfungsi mengolah ransangan tersebut hingga menjadi ransangan terhadap urat syaraf, sebagai masukan (informasi) bagi satuan struktural berikutnya.
b. Masukan ditampung dalam pusat penampungan kesan-kesan sensoris (sensory register) selama priode waktu yang amat singkat. Kesan sensoris yang berasal dari berbagai alat indra, diolah sedemikian rupa sehingga membentuk pola yang serasi (masuk akal).
Berikutnya Tolman berpendapat tentang belajar tersembunyi, yaitu boleh diadakan pemisahan saat belajar sesuatu dan saat diberikan prestasi sebagai bukti bahwa telah terjadi proses belajar. Menurutnya, ada kemungkinan reaksi baru diberikan setelah waktu yang agak lama, reaksi ini menjadi bukti bahwa sebelumnya telah terjadi proses belajar. Berdasar pemikiran ini maka Tolman berkeyakinan bahwa: manusia dapat memperoleh banyak pengetahuan tanpa melihat pengetahuan yang dimilikinya, sampai tiba waktunya pengetahuan itu dibutuhkan dan diperlihatkan.
4. DP. Ausubel menulis Educational Psycology, a Cognitive View (1968, 1978) dan School Learning an Introduction to Educational Psycology (1969) ia memperhatikan pada belajar disekolah dan menekankan siswa menghubungkan hal-hal baru yang dipelajari dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya, ia berpendapat "bahwa faktor yang paling berperan dalam belajar siswa adalah kwantitas, kualitas dan oraganisasi dari semua fakta, pengertian dan kaidah yang dimilikinya pada saat sekarang. Ini berarti bahwa isi dan bentuk organisasi (mental) dari pengetahuan dan pemahaman yang tersimpan didalam ingatan menjadi landasan bagi belajar hal-hal yang baru harus dihubungkan dengan yang dipelajari sebelumnya. Oraganisasi mental ini disebut struktur kognitif (cognitive structure)"
5. Jeromes Bruner (1960) menulis The Process of Education
Ia mengembangkan pendapat Jhon Pieget tentang sistematika fase-fase perkembangan kognitif sianak, Bruner mengatakan, bahwa manusia bisa mengenal dan mengetahui dengan 3 cara:
a. Berbuat atau melakukan sesuatu objek.
Dengan menangani dan memanipulasi suatu obyek diketahui apa yang dapat dilakukan dengan obyek itu. Cara mengenal ini disebut sistem enaktik (aksi/gerakan motorik).
Misalnya: anak kecil belajar naik sepeda beroda tiga, dengan itu ia mengetahui apa yang dapat dilakukan dengan sepeda itu.
b. Mempunyai bayangan tentang obyek (mengahadapi materi yang diatur dan mengamati secara baik-baik). Cara mengenal ini disebut sistem Ikonik (Ikonik berarti gambar, bayangan mental) misalnya: orang mempunyai peta mental tentang jalan-jalan besar dikota Yogyakarta, berdasar peta mental itu atau bisa merencanakan rute yang diambilnya, bila ingin pergi dari kampus Sanata Darma keterminal Bus dibagian selatan kota.
c. Memiliki dan menggunakan simbol-simbol yang mewakili obyek (misalnya dengan menggunakan kata, angka, lambang) disebut Sistem Simbolik.
Menurut Bruner bahwa perkembangan kognitif anak berlangsung melalui urutan fase yaitu: sistem Enaktik, Sistem Ekonik dan Sistem Simbolik. Cara anak menghadapi realitas diluar diri sendiri pada setiap fase berbeda-beda karena corak mengenal realitas itu berlainan, dan setiap fase dalam proses perkembangan kognitif itu terikat pada rentangan umum tertentu.
Dengan demikian, belajar pada manusia bersifat kognitif dan pada anak yang masih dalam taraf perkembangan menjadi suatu proses kognikatif yang berlangsung melalui tiga fase, masing-masing fase mengandung corak mengenal realitas yang secara kualitatif berbeda-beda. Dengan itu maka menurut Bruner, bahwa materi pelajaran tertentu bisa diajarkan menurut pola "Kurikulum Spiral" misalnya pengertian/konsep "himpunan dalam matematika modern" dapat dijabarkan memalui gambar disertai bayangan visual (sistem ikonik), lalu diajarkan lewat simbol mis: x, y, (sistem simbol). (WS. Winkel, Psikologi Pengajaran, Gramedia, Jakarta, 1989 : 379).
BAB II
HUBUNGAN PROSES PERKEMBANGAN DENGAN PROSES BELAJAR
A. Definisi dan Nilai Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
1. Definisi perkembangan
Secara singkat, perkembangan (deveploment) adalah proses atau tahapan pertumbuhan kearah yang lebih maju. Pertumbuhan (growth) adalah tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah ukuran dan arti pentingnya. Pertumbuhan juga bisa berarti sebuah tahapan perkembangan (a stage of deveploment) (MC. Leod, 1989).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) bahwa "perkembangan" adalah perihal berkembang, dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti mekar terbuka atau membentang, menjadi besar, luas dan banyak dan menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan dan sebagainya.
Dalam Dictionary of Psychology (1972) dan The Penguin Dictionary of Psychology (1988), arti perkembangan pada prinsipnya adalah tahapan-tahapan perubahan yang progresif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam ciri organisme tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa perkembangan adalah rentetan perubahan jasmani dan rohani manusia menuju kearah yang lebih maju dan sempurna.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Dalam mempelajari perkembangan ada yang perlu diperhatikan yaitu: proses pematangan khususnya fungsi kognitif, proses belajar, pembawaan atau bakat yang ketiganya saling terkait dan saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak didik ada beberapa pandangan antara lain :
a. Aliran Nativisme (Arthur Schopenhauer 1788-1860 Jerman)
Bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedang pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa seperti: orang tua ahli musik maka akan menurunkan anak ahli musik pula.
Para ahli yang mengikuti aliran Nativesme antara lain: Noam A. Ghomsky lahir 1928 (ahli linguistik) mengatakan, bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidak dijelaskan semata-mata oleh proses belajar, tapi karena kecenderungan biologis yang dibawa sejak lahir.
b. Aliran Empirisme (John Locke Inggris 1632-1704)
Terkenal dengan teori tabularasa menekankan pentingnya pengalaman, lingkungan dan pendidikan, dalam arti bahwa perkembangan manusia itu bergantung pada lingkungan, pengalaman dan pendidikan. Jadi anak pada saat lahir tidak mempunyai atau tidak membawa apa-apa.
c. Aliran Konvergensi (William Stern Jerman, 1871-1704)
Bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan dan sebagai akibat interaksi antara faktor intern dan esktern. Diakui bahwa anak dilahirkan dengan membawa sifat-sifat dasar atau benih tertentu yang berasal dari keturunan (heriditet) namun sifat dasar tersebut bisa tumbuh dan berkembang setelah mendapat pengaruh dari luar dan pendidikan yang tepat.
Menurut ajaran Islam, bahwa sifat dasar yang berasal daari keturunan itu disebut fitroh, nah…atas dasar fitroh itulah manusia diciptakan (ditumbuh kembangkan). Namun merupakan tugas orang tua untuk mendidik dan mengarahkan pertumbuhan perkembangan anak tersebut.
Dalam surat Ar-Rum ayat 30 disebutkan :
فأقم وجهك للذين حنفا فطرت الله التى فطرالناس عليها لاتبديل لخلق الله ذلك الذين القيم ولكن
اكثر الناس لايعلموان
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitroh Allah yang telah menciptakan menurut fitroh itu. Tidak ada perubahan pada fitroh Allah. (itulah) Agama yang lurus, tapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Depag RI, al-Qur’an dan terjemahnya, Surya Cipta Aksara, Surabaya, 1993 : 645)
Dalam Hadist Nabi SAW. Juga dijelaskan :
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه اوينصرانه اويمجسانه
Artinya: Manusia (setiap anak) itu dilahirkan dalam keadaan suci, maka kepada kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi.
B. Proses, Tugas dan Hukum Perkembangan
1. Proses Perkembangan
Secara global proses perkembangan individu sampai menjadi dirinya sendiri (person) berlangsung dalam tiga tahap:
a. Konsepsi, yaitu pembuahan sel ovum wanita oleh sel sperma laki-laki.
b. Kelahiran yaitu saat keluarnya sibayi dari rahim wanita kealam dunia.
c. Perkembangan bayi menjadi pribadi yang khas.
Hurlock (1980) mengatakan, bahwa tingkatan-tingkatan dalam rentang waktu kehidupan bagi semua proses perkembangan individu disebut "Stages in the Life Span".
2. Tugas dan Fase Perkembangan
Tugas belajar yang muncul dalam setiap fase perkembangan merupakan keharusan universal dan idealnya berlaku secara otomatis, seperti kegaiatan belajar melakukan keterampilan melakukan suatu fase perkembangan tertentu yang lazim terjadi pada manusia normal. Disamping itu, yang juga menimbulkan tugas-tugas perkembangan, adalah :
a. Karena adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu.
b. Karena adanya dorongan cita-cita psikologis manusia yang sedang berkembang itu sendiri.
c. Karena adanya tuntutan kultural masyarakat sekitar.
Dalam rangka mengfungsikan tahap-tahap perubahan yang menyertai perkembangan manusia harus belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan tertentu seperti belajar dan bicara pada rentang usia 1-5 tahun. Belajar melakukan kebiasaan-kebiasaan itu dimasa perkembangan yang tepat dipandang berkaitan langsung dengan tugas-tugas perkembangan berikutnya.
Fase-fase perkembangan dan tugas-tugas yang mengiringi fase-fase tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Robert Havigurst (1972) berikut ini :
a. Tugas Perkembangan Fase Bayi dan Anak-anak
Secara kronologis, masa bayi dimulai dari sejak lahir sampai usia 1 tahun sedangkan masa kanak-kanak 1-5/6 tahun. Perkembangan biologis pun pesat tapi secara sosiologis masih terikat oleh lingkungan keluarganya, oleh karena itu fungsionalisasi keluarga pada fase ini penting sekali untuk disiapkan anak terjun kedalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan sekolah.
Tugas perkembangan pada fase bayi serta fase kanak-kanak sebagai berikut :
1. Belajar memakan makanan keras, misalnya bubur susu, bubur beras, nasi dll.
2. Belajar berdiri dan berjalan, misalnya berpegang pada tembok atau sandaran dikursi.
3. Belajar bicara, misalnya mulai menyebut kata ibu, bapak dan nama-nama benda yang lain.
4. Belajar mengendalikan pengeluaran benda-benda buangan dari tubuhnya, misalnya: meludah, membuang ingus dll.
5. Belajar membedakan jenis kelamin antara pria dan wanita dan bersopan santunan seksual.
6. Mencapai kematangan untuk belajar membaca (mulai mengenal huruf, suku kata dan kata-kata tertulis).
7. Belajar mengadakan hubungan emosional selain dengan ibunya dan keluarganya.
8. Belajar membedakan hal-hal yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah serta membentuk kata hati (hati nurani).
b. Tugas Perkembangan Fase Anak-anak
Fase anak-anak antara 6-12 tahun dengan ciri utama :
1. Memiliki dorongan untuk keluar rumah dan memasuki kelompok sebaya (peer group).
2. Keadaan fisik yang memungkinkan atau mendorong anak memasuki dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan jasmani.
3. Memiliki dorongan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, simbol dan komunikasi yang luas.
Tugas perkembangan fase anak-anak sebagai berikut :
1. Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain, seperti lompat jauh, lompat tinggi, menghindar dan lain-lain.
2. Membina sikap yang sehat dan positif pada dirinya sendiri sebagai seorang individu yang sedang berkembang, seperti kesadaran tentang harga diri, dan kemampuan diri.
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya relevan dengan etika yang berlaku dimasyarakatnya
4. Belajar memainkan peran sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita).
5. Mengembangkan dasar-dasar keterampilan membaca, menulis dan berhitung.
6. Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
7. mengembangkan kata hati, moral skala nilai yang selaras dengan keyakinan dan kebudayaan yang berlaku dimasyarakatnya.
8. Mengembangkan seikap obyektif/tugas baik positif maupun negatif terhadap kelompok dan lembaga kemasyarakatan.
9. Belajar mencapai kemerdekaan tahu kebebesan pribadi sehingga menjadi dirinya sendiri yang mandiri (indenpenden) dan bertanggung jawab.
c. Tugas Perkembangan Fase Remaja
Masa remaja menurut sebagian ahli Psikologi terdiri atas sub-sub masa perkembangan yaitu :
1. Pra Puber (± 2 tahun sebelum masa puber)
2. Puber (Selama 2 1/2 – 31/2 tahun)
3. Post Puber (saat perkembangan biologis sudah lambat masih terus berlangsung pada bagian-bagian tertentu). Inilah akhir masa puber yang mulai menampakkan tanda-tanda kedewasaan
Proses perkembangan masa remaja selama 11 tahun mulai dari usia 12 – 21 tahun bagi wanita dan 13-22 tahun pada pria. Dan inilah yang sering disebut masa kesukaran dan persoalan, bukan saja bagi siremaja sendiri tapi bagi orang tua, guru, masyarakat sekitar dan penegak hukum, kenapa terjadi demikian? Karena remaja berada dipersimpangan jalan antara masa anak-anak dan masa dewasa (transisi).
Tugas perkembangan masa remaja umumnya meliputi pencapaian dan persiapan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan dewasa.
1. Mencapai pola hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya yang berbeda jenis kelamin sesuai dengan keyakinan dan etika moral yang berlaku dimasyarakat.
2. Mencapai peranan sosial selaras dengan tuntutan sosial dan kultur masyarakatnya.
3. Menerima kesatuan organ-organ tubuh dan menggunakan secara efektif sesuai dengan kodratnya masing-masing.
4. Keinginan menerima dan mencapai tingkah laku sosial tertentu yang bertanggung jawab ditengah-tengah masyarakatnya.
5. Mencapai kemerdekaan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya dan mulai menjadi dirinya sendiri.
6. Menyiapkan diri untuk mencapai karir (jabatan dan profesi) tertentu dibidang ekonomi.
7. Menyiapkan diri memasuki dunia perkawinan dalam rumah tangga (keluarga).
8. Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman bertingkah laku dan mengembangkan idiologi untuk keperluan kehidupan kewarganegaraannya.
d. Tugas Perkembangan Fase Dewasa Awal
Usia 21-40 tahun, sebelum memasuki masa ini remaja berada diambang dewasa, atau remaja akhir antara 21 atau 22 tahun dan menurut para ahli sekalipun perkembangan organ-organ jasmaniah tertentu amat lamban tapi masih terus berlangsung hingga berumur 24 tahun.
Tugas-tugas perkembangan fase dewasa awal antara lain :
1. Mulai bekerja mencari nafkah, khususnya jika ia tidak melanjutkan karir akademiknya.
2. Memilih pasangan hidup berumah tangga (calon suami atau calon istri).
3. Mulai memasuki kehidupan rumah tangga yaitu sebagai suami atau istri.
4. Belajar hidup bersama pasangan dalam suasana rumah tangga (suami istri).
5. Mengelola tempat tinggal untuk keperluan rumah tangganya dan keluarganya.
6. Merawat anak-anak dengan memenuhi sandang pangan, papan dan pendidikan.
7. Menerima tanggung jawab kewarga-negaraan sesuai dengan perundang-undangan dan tuntutan sosial yang berlaku dimasyarakat.
8. Menemukan kelompok sosial (perkumpulan kemasyarakatan) yang sesuai dan serasi
e. Tugas Perkembangan setengah Baya
Usia 40-60 tahun sebagian ada memberi julukan "puber Ke-2", karena masa ini ia menyukai dandanan dan emosional mudah bergejolak.
Tugas-tugas perkembangan fase setengah baya antara lain :
1. Mencapai tanggung jawab sosial dan kewarga-negaraan secara lebih dewasa.
2. Membantu anak-anak usia belasan tahun (khususnya anak kandung) agar berkembang menjadi orang dewasa.
3. Mengembangkan aktifitas dan memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya bersama orang-orang dewasa lainnya.
4. Menghubungkan diri sedemikian rupa dengan pasangannya sebagai pribadi yang utuh.
5. Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan psikologis yang lazim terjadi dimasa setengah baya.
6. Mencapai dan melaksanakan penampilan yang memuaskan dalam karir (profesi, jabatan).
7. Menyesuaikan diri dengan prikehidupan (khususnya cara bersikap dan bertindak) orang-orang yang berusia lanjut.
f. Tugas Perkembangan Fase Tua
Masa ini berusia 60 tahun keatas yang disebut "masa tua/senescence" yang ditandai kemorosotan kemampuan motorik. Tugas-tugasnya antara lain.
1. Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan dan kesehatan jasmaniah.
2. Menyesuaikan diri dengan keadaan pensiun dan berkurangnya penghasilan.
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangannya.
4. Membina hubungan yang tegas (afiliasi eksplisit) dengan para anggota kelompok seusianya.
5. Mengatur jasmani sedemikian rupa agar memuaskan dan sesuai dengan kebutuhannya.
3. Hukum Perkembangan
a. Hukum Konvergensi
Perkembangan manusia pada dasarnya tidak hanya dipengurhi oleh faktor pembawaan sejak lahir, tetapi juga oleh lingkungan pendidikan. Hal ini berarti masa depan kehidupan manusia tidak terkecuali para siswa. Bergantung pada potensi pembawaan yang mereka warisi dari orang tua pada proses pematangan dan pada proses pendidikan yang mereka alami. Seberapa jauh perbedaan pengaruh antara pembawaan dan lingkungan, bergantung pada besar kecilnya efek lingkungan yang dialami siswa.
Bila pengaruh lingkungan sama besar dan kuatnya dengan pembawaan siswa maka hasil pendidikan yang didapat siswa itu akan seimbang dan baik (tidak ada satu faktorpun yang dikorbankan secara sia-sia). Apabila pengaruh lingkungan itu lebih besar dan lebih kuat dari pembawaan, maka hasil pendidikan siswa hanya kan sesuai dengan kehendak lingkungan (pembawaan siswa dikorbankan). Jika pembawaan siswa lebih besar dan lebih kuat pengaruhnya dari pada lingkungan maka hasil pendidikan siswa hanya sesuai dengan pembawaan (lingkungan pendidikan dikorbankan).
b. Hukun Bertahan dan Mengembangkan Diri
Dalam kehidupan timbul hasrat dan dorongan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan diri. Dengan mempertahankan diri ini terwujud seperti dorongan makan dan minum (sebagai kebutuhan primer). Anak menyatakan lapar, haus, sakit, dan lain-lain dalam bentuk menangis (ia mempertahankan diri dengan cara menangis) jika ibu mendengar anaknya menangis maka tangis itu dianggap sebagai dorongan mempertahankan diri.
Dalam perkembangan jasmani dan rohani terlihat hasrat dasar mengembangkan pembawaan. Untuk anak-anak dorongan mengembangkan dirinya berbentuk hasrat mengenal lingkungannya, belajar berjalan. Dikalangan remaja timbul rasa persaingan dan perasaan belum puas terhadap apa yang telah dicapai hingga timbul pemikiran untuk mengembangkan dirinya "dengan giat belajar".
c. Hukum Masa Peka (Prof. Dr. Hugo de Vries, Belanda 1848-1935)
Masa peka ialah suatu masa ketika fungsi-fungsi jiwa menonjolkan diri keluar (demikian baik perkembangannya) dan peka terhadap pengaruh ransangan (stimulus) yang datang maka harus dilayani sebaik-baiknya. Menurut pendapat yang Masyhur, bahwa masa peka untuk semua aspek kehidupan itu datangnya hanya satu kali (tidak terulang lagi dikesempatan yang lain) misalnya anak berumur 2 tahun masa peka berjalan, dan anak berumur 5 tahun masa peka menggambar.
Istilah masa peka dibawa oleh Dr. Maria Motessori dari Itali (1870-1952) yang sangat penting untuk diperhatikan orang tua terutama pelayanan yang berkaitan dengan pendidikan.
d. Hukum Keperluan Belajar
Antara perkembangan dan belajar terdapat hubungan yang erat sehingga hampir semua proses perkembangan memerlukan belajar (setiap anak biasanya berkembang karena belajar).
Keperluan belajar bagi proses perkembangan terutama perkembangan fungsi-fungsi pshikis tidak bisa diingkari, sekalipun kebanyakan ahli tidak menyebutnya secara eksplisit, bahkan kemampuan berjalan yang secara lahiriah bisa diperkirakan akan muncul dengan sendirinya, ternyata masih juga memerlukan belajar sekalipun hanya sekedar mengfungsikan organ kaki anak yang sebenarnya berpotensi untuk bisa berjalan sendiri.
Perkembangan ranah cipta (seperti berpikir dan memecahkan masalah), ranah rasa (seperti meyakini kebenaran ajaran agama dan bertenggang rasa kepada orang lain) tentu tidak timbul dengan sendirinya dalam diri anak tanpa belajar terlebih dahulu.
Alhasil, kegiatan belajar anak didalam segala bentuk dan manifestasinya sangat diperlukan untuk mendukung proses perkembangan yang utuh dan menyeluruh.
e. Hukum Kesatuan Anggota badan
Proses perkembangan fungsi-fungsi organ jasmaniah tidak terjadi tanpa proses perkembangan fungsi-fungsi rohaniah, yang dengan demikian tahapan perkembangan satu tidak terlepas dari tahapan perkembangan yang lain. Misalnya perkembangan panca indra tidak terlepas dari perkembangan kemampuan mendengar, melihat, bicara dan merasa, lalu kemampuan-kemampuan tersebut juga tidak terlepas dari perkembangan berpikir, bersikap dan berperasaan.
Perkembangan kognitif dan afektif juga diiringi perkembangan ranah psikomotor, yaitu berbagai keterampilan yang selaras dengan pengetahuan dan perasaan yang telah ia miliki. Cara dan intensitas pemanfaatan keterampilan psikomotor itupun disesuaikan dengan kebutuhan sebagaimana yang ditunjukkan oleh persepsi akalnya dan apresiasi ranah rasa. Misalnya cara mengangkat dan memindahkan sofa ukuran Jepara tentu berbeda dengan cara mengangkat dan memindahkan bangku atau kursi biasa, termasuk penempatan sofa yang sesuai.
Alhasil, tahapan-tahapan perkembangan yang terjadi dalam suatu ranah akan berpengaruh terhadap tahapan-tahapan perkembangan yang terjadi dalam ranah lainnya (inilah yang dimaksud dengan hukum kesatuan badan).
f. Hukum Tempo Perkembangan
Berlangsungnya perkembangan individu anak belum tentu sama satu dengan yang lainnya. Ada anak yang dalam perkembangannya terlihat begitu cepat misalnya belajar merangkak, berjalan, bicara dan lain-lain, sementara anak yang lain berlangsung lambat, hal ini disebabkan adanya "tempo perkembangan" merupakan proses yang pasti. Ini berarti bahwa "jika perkembangan cepat jangan dicegah atau dihambat dan jika perkembangan lambat jangan dipaksakan".
g. Hukum Irama Perkembangan
Berlangsungnya perkembangan individu tidak mulus (lancar/tidak tersendat-sendat) ada proses perkembangan berjalan lancar pada waktu tertentu namun tersendat-sendat diwaktu yang lain, dan ada pula dari keadaan biasa lalu menonjol cepat dan akhirnya turun. Misalnya belajar berjalan dan bicara.
Garis-garis yang melalui titik a dan c menunjukkan bahwa usaha anak belajar berjalan sedang ditingkatkan. Garis-garis tebal yang melaui titik b dan d menunjukkan bahwa anak sedang berusaha belajar berbicara.
Anak yang sedang giat-giatnya belajar berjalan maka kegiatan belajar bicaranya reda, apabila ia sudah lancar berjalan maka kegiatan berjalan itu mereda lalu semua perhatiannya dialihkan untuk kegiatan bicara hingga lancar semuanya.
h. Hukum Rekapitulasi
Bahwa perkembangan anak merupakan ulangan secara singkat dari perkembangan seluruh umat manusia. Hackle (Ahli Biologi Jerman) pengikut teori Rekapitulasi memegang semboyan: Bahwa Ontogenese (perkembangan individu) adalah ulangan dari Phylogenese (kehidupan nenek moyang) hingga dalam kehidupan ini mengalami beberapa masa:
1. Masa Berburu/Menyamun (± 8 tahun)
Kegiatannya senang menangkap binatang, bermain panah-panahan, perang-perangan.
2. Masa Menggembala (± 8 – 10 tahun)
Kegiatannya senang memelihara bianatang, ikan, kambing, ayam, kelinci dan lain-lain.
3. Masa Bertani (± 10 – 12 tahun)
Kegiatannya senang berkebun, memelihara tanam-tanaman, memelihara bunga.
4. Masa Berdagang (± 12 – 14 tahun)
Kegiatannya gemar bermain pasar-pasaran (jual beli menggunakan uang kertas, tukar-menukar gambar dan lain-lain).
5. Masa Industri (± 14 tahun ke atas)
Kegiatannya mulai mencoba berkarya sendiri, membuat mainan, membuat kandang merpati, kandang jangkrik dan lain-lain.
C. Perkembangan Psiko-Fisik Siswa
Perkembangan psiko-fisik (proses perkembangan) yang terkait langsung dengan kegiatan belajar siswa meliputi :
1. Motor Deveploment atau perkembangan motor/fisik yaitu proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skills).
2. Kognitive Deveploment
Yaitu perkembangan fungsi intelektual/kecerdasan (otak anak).
3. Sosial and Moral Deveploment
Yaitu proses perkembangan mental yang berhubungan dengan perubaha-perubahan cara anak berkomunikasi dengan orang lain baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.
1. Motor Deveploment (perkembangan motor/fisik siswa)
Dalam psikologi, kegiatan yang melibatkan otot-otot dan gerakannya dan kelenjar-kelanjar sekresinya (pengeluaran cairan/getah). Secara singkat kotor berarti segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.
Perkembangan fisik anak berlangsung ± selama 2 dasawarsa sejak ia dilahirkan dan semburan perkembangan (sprurt) pada masa menginjak usia remaja (12/13 – 21/22 tahun). Pada saat perkembangan berlangsung, beberapa bagian jasmani (seperti kepala dan otak) yang pada waktu didalam rahim tidak seimbang (tidak seperti badan dan kaki) mulai menunjukkan perkembangan cukup berarti sehingga bagian-bagian lainnya menjadi matang. Dan menurut Gleitman (1987) bahwa bekal yang dibawa anak sejak lahir adalah: (1) Bekal kapasitas motor (jasmani). (2) Bekal kapasitas panca indra (sensori).
Ada empat macam (4) faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak yang memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya, yaitu: (1) Pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf, (2) Pertumbuhan otot-otot, (3) Pertumbuhan dan perkembangan fungsi induktril, (4) Perubahan struktur jasmani
2. Kognitive Development
Para ahli psikologi kognitif berkeyakinan, bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir, bekal dan modal dasar perkembangan manusia yaitu: kapasitas motor dan kapasitas sensori (seperti yang dijelaskan dimuka) ternyata batas tertentu, juga dipengaruhi oleh aktivitas ranah kognitif, bahwa campur tangan sel-sel otak terhadap perkembangan bayi baru dimulai setelah ia berumur 5 bulan saat kemampuan sensori (melihat dan mendengar) benar-benar mulai tampak.
Pendayagunaan ranah kognitif sudah berjalan sejak manusia mulai mendayagunakan kapasitas motor dan sensorinya (Cuma pendayagunaan ranah kognitif belum jelas dan benar) karena: kapasitas sensori dan jasmani manusia yang baru lahir tidak bisa diaktifkan tanpa aktivitas pengendalian sel-sel otak bayi tersebut, ini terbukti: jika manusia baru lahir cacat atau kelainan pada otak kemungkinan kecil sekali bayi bisa mengotomatiskan refleks- refleks motor dan daya-daya sensorinya sebab otomotisasi refleks dan sensori tidak pernah lepas dari aktivitas ranah kognitif (karena sentral reflek didalam otak sebagai pusat ranah kognitf manusia).
Sedangkan Jean Pieget (pakar Psikologi kognitif dan Psikologi anak 1896-1980) mengklasifikasi perkembangan kognitif anak dalam empat (4) tahap
1. Tahap Sensori Motor
Perkembangan ranah kognitif terjadi diusia 0 – 2 tahun.
2. Tahap Pre-operational
Perkombangan ranah kognitif terjadi diusia 2 – 7 tahun
3. Tahap Concrete-operational
Perkombangan ranah kognitif terjadi diusia 7 – 11 tahun
4. Tahap Formal-operational
Perkembangan ranah kognitif terjadi diusia 11–15 tahun (Daehler & Bukatko 1985, Best-1989, Anderson 1990)
3. Sosial and Moral Development
Pendidikan ditinjau dari kejiwaan kemasyarakatan (psiko-sosial) adalah upaya penumbuh-kembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan inter-personal (hubungan antara pribadi) yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang terorganisir (masyarakat pendidikan dan keluarga). Sedangkan dalam merespon pelajaran dikelas misalnya: siswa tergantung pada persepsinya terhadap guru pengajar dan teman-teman sekelasnya, positif-negatifnya persepsi siswa terhadap guru dan teman-temannya sangan mempengaruhi kualitas hubungan sosial para siswa dengan lingkungan sosial kelasnya bahkan dengan lingkungan sekolahnya.
Ada dua (2) macam studi yang dilakukan Jean Piaget tentang perkembangan moral anak dan remaja
1. Melakukan observasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng dan menanyai tentang aturan yang mereka ikuti.
2. Melakukan tes dengan menggunakan beberapa kisah yang menceritakan perbuatan salah dan benar yang dilakukan anak-anak, lalu meminta responden (anak dan remaja) untuk menilai kisah-kisah tersebut berdasarkan pertimbangan moral mereka sendiri.
Berdasarkan data hasil studi Jean Piaget diatas ditemukan dua (2) tahap perkembangan moral anak dan remaja (antara tahap I&II) diselingi masa transisi diusia 7–10 tahun. Lihat tabel berikut :
TEORI DUA TAHAP PERKEMABANGAN MORAL VERSI PIAGET
USIA TAHAP CIRI KHUSUS
4 – 7 Tahun Realisme moral (Pra-oprasional) 1. Memusatkan pada akibat-akibat perbuatan.
2. Aturan tidak berubah
3. Hukum atas pelanggaran bersifat otomatis
7 – 10 Tahun Masa transisi (konkrit operasional) 1. Perubahan secara bertahapap kepemililikan moral tahap II.
11 Tahun Keatas Otonomi moral, realisme dan resiprositas (formal-operasional) 1. Mempertimbangkan tujuan-tujuan perilaku moral.
2. Menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang bisa berubah.
Pada remaja awal (yuwana) dan remaja akhir (pasca yuwana) sudah memiliki persepsi yang jauh lebih maju, karena dimasa ini ia memandang bahwa moral sebagai perpaduan yang terdiri atas otonomi moral (sebagai hak pribadi), realisme moral (sebagai kesepakatan sosial) dan resiprositas moral (sebagai aturan timbal balik).
Sedangkan pengikut Piaget yaitu Lawrence Kohlberg menemukan tiga (3) tingkat pertimbangan moral yang dilalui manusia (yaitu prayuwana, yuwana dan pasca yuwana) yang setiap tingkat terdiri dari dua tahap perkembangan sehingga secara keseluruhan perkembangan moral manusia terjadi dalam enam (6) tahap. Lihat tabel berikut:
TEORI ENAM TAHAP PERKEMBANGAN PERTIMBANGAN VERSI LAWRENCE KOHLBERG
TK TAHAP KONSEP MORAL
I. Moralitas pra. Konvensional (4 – 10 tahun)
Tahap I.
Memperhatikan ketaatan dan hukum
Tahap II.
Memperhatikan pemuasan kebetulan 1. Anak menentukan keburukan prilaku berdasar tingkat hukuman akibat keburukan tersebut
2. Prilaku baik dihubangkan dengan penghindaran dari hukuman
1. Prilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain
II. Moralitas konvensional (10-13 tahun)
Tahap III.
Memperhatikan citra "anak baik"
Tahap IV.
Memperhatikan hukum dan aturan 1. Anak dan remaja berperilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral agar memperoleh persetujuan orang dewasa, bukan untuk menghindari hukuman
2. Perbuatan baik-buruk dinilai berdasar tujuannya. Jadi ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan
1. Anak dan remaja memiliki sikap pasti terhadap wewenang dan aturan
2. Hukum harus ditaati oleh semua orang
III. Moralitas naskah konvensional (13 tahun keatas)
Tahap V.
Memperhatikan hak perseorangan
Tahap VI
Memperhatikan prinsip-prinsip etika 1. Remaja-dewasa mengertikan prilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan dan patokan sosial
2. Perubahan hukum dan aturan bisa diterima jika diperlukan untuk mencapai hal-hal yang baik
3. Pelanggran hukum dan aturan bisa terjadi karena alasan-alsan tertentu
1. Keputusan tentang prilaku-prrilaku sosial didasarkan atas prinsip moral pribadai yang bersumber dari hukum universal yang selaas dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain
2. Keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai tetap melekat, walau sewaktu-waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk mengekalkan aturan sosial.
Contoh: suami yang yang tak beruang boleh jadi akan mencuri obat untuk menyelamatkan nyawa istrinya dangan keyakinan bahwa melestarikan kehidupan manusia itu merupakan kewajiban moral yang lebih tinggi dari pada mencuri itu sendiri.
Sedangkan perkembangan sosial dan moral menurut teori belajar sosial (sosial-reaning) yang dipelopori Albert Bandura memandang bahwa tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (s-r bond) saja, tetapi ditambah adanya interaksi antara milliu + skema kognitif manusia itu sendiri.
Pendekatan teori
Belajar-sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada pembiasaan merespon (cobditioning) dan peniruan (imitation). Lihat table berikut :
TEORI PERKEMBANG SOSIAL DAN MORAL SISWA MENURUT
A. BANDURA DAN L. KOHLBERG
Aspek A. Bandara
(Teori Belajar Sosial) L. Kohlberg
(Teori Psi. Kognitif)
1. Tekanan dasar
2. Mekanisme
3. Usia perolehan moralitas
4. Kenisbian kebudayaan
5. Pelaku sosialisasi
6. Implikasi untuk pendidikan Prilaku bergantung pengaruh orang lain dan kondisi stimulus
Hasil dari conditioning dan modeling
Belajar berlangsung sepanjang hayat, dan ada perbedaan usia perolehan
Moralitas bersifat secara cultural
Model-model yang amat berpengaruh orang "dewasa dan teman" yang bisa menyalurkan ganjaran dan hukuman
Guru harus menjadi teladan yang dan menggenjar setiap prilaku siswa yang memdai Pemikiran sebagai prilaku kualitatif dalam perkembangan.
Berlangsung dalam tahap-tahap yang teratur dan berkaitan dengan perkembangan kognitif.
Proses belajar berkesinambungan hingga masa dewasa, dan dapat ditetapkan dalam usia-usia tertentu.
Nilai-nilai moral dalam tahapan perkembangan bersifat universal.
Orang-orang yang berada pada tahap perkembangan yang lebih tinggi dan memiliki pengaruh yang amat besar.
Guru harus berusaha merangsang siswa agar mencapai tahapa perkembangan selanjutnya dan menjelakan ciri-ciri perilaku moral pada tahap tersebut
=====================================================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar